> Sosok Inspiratif

 

Breaking news


CANBERRA
(simdik.info) Saat pementasan wayang kulit di Canberra, ada satu sosok yang begitu mencolok di belakang panggung. Bukan sang dalang, namun sesosok lelaki berumur sekitar 70 tahun yang begitu dihormati semua pemain yang terlibat dalam pementasan wayang itu.
Namanya adalah Mbah Soegito, staff KBRI Canberra yang menjadi pengajar gamelan. Malam itu, Mbah Soegito terlihat begitu gagah dengan pakaian beskap lengkap dengan keris.
Saat masuk ke ruang ganti pemain, semua menyalami Mbah Soegito. Pemain gamelan yang kebanyakan merupakan warga Australia itu tetap menyapa Mbah Soegito dengan sebutan 'Mbah'.
Mbah Soegito bukanlah orang baru di KBRI Canberra. Sudah 30 tahun lebih, Soegito bekerja di bagian kebudayaan KBRI Canberra.
Saat pementasan wayang, Mbah Soegito begitu sibuk sehingga tidak memiliki waktu untuk berbincang. Dia lalu mengajak detikcom dan 2 media lain yang difasilitasi Australia Plus ABC International yang tengah berada di Canberra untuk datang ke kantornya keesokan harinya.


Masih ingat dengan perempuan asal Kendal, Raeni?
Anak tukang becak yang berhasil menjadi wisudawan terbaik di Universitas Negeri Semarang (Unnes) periode kedua 2014.
Ia lulus dengan IPK yang nyaris sempurna, yakni 3,96.
Prestasinya tersebut tentu tidak hanya membanggakan ayahnya yang notabene seorang tukang becak.
Namun masyarakat tanah air pun turut kagum dengan prestasi yang ditorehkan oleh Raeni.
Kabar Raeni yang menjadi wisudawan terbaik itu pun sempat sampai ke telinga Susilo Bambang Yudhoyono, yang kala itu masih menjabat sebagai Presiden RI.

Nara Masista Rakhmatia, Diplomat muda


Nara Masista Rakhmatia, Perempuan cantik berusia 34 tahun yang merupakan jebolan SMA 70 Jakarta dan Fisip UI ini sekarang mendadak viral di media sosial. Pasalnya, Dalam acara sidang PBB Diplomat muda ini berani menghajar empat perdana menteri dan dua presiden dari enam negara pasifik, yakni Solomon Island, Vanuatu, Nauru, Tonga, Tuvalu dan Marshall Island yang menyebutkan bahwa Indonesia telah melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua Barat dan Papua.

Nara mengecam tudingan negara-negara di Kepulauan Pasifik yang mengkritik catatan HAM di Papua. Mereka yang mengkritik Indonesia adalah kepala pemerintahan dari Kepulauan Solomon dan Vanuatu yang didukung oleh Nauru, Kepulauan Marshall, Tuvalu dan Tonga.


Dari keberanian Soekarno ini kemudian pemerintah kolonial Belanda menangkapnya di Yogyakarta dan memasukkannya ke penjara Banceuy di Bandung. Kemudian tahun 1930, Soekarno dipindahkan ke penjara Suka Miskin. Dalam penjara ini kebutuhan hidupnya semua berasal dari istrinya yang setia menemaninya yaitu Inggit Ganarsih yang menikah dengan Soekarno pada tahun 1923 yang sebelumnya Soekarno telah menceraikan Siti Oetari secara baik-baik pada saat masih di Bandung.

Inggit yang juga dibantu oleh kakak Soekarno bernama Sukarmini sering membawakan makanan kepada Soekarno di penjara Suka Miskin, hal itulah yang kemudian membuat pengawasan di penjara Suka Miskin makin diperketat.

Soekarno sang Proklamator (edisi 1)


Presiden Soekarno sang Proklamator. Mungkin sampai sekarang beliau adalah tokoh yang paling banyak dikagumi orang di Indonesia. Banyak orang yang mencari mengenai perjalanan hidup, profil atau biografi singkat mengenai Soekarno. Dikenal sebagai Presiden pertama Republik Indonesia sekaligus pencetus Pancasila, beliau lebih akrab di panggil Bung Karno ini berasal dari Blitar, dia merupakan pahlawan Proklamasi bersama dengan Mohammad Hatta.

Presiden Soekarno sangat disegani oleh para pemimpin negara-negara di dunia pada waktu itu. Soekarno dilahirkan di Surabaya tepatnya pada tanggal 6 Juni 1901 dengan nama asli bernama Koesno Sosrodihardjo, karena sering sakit yang mungkin disebabkan karena namanya tidak sesuai maka ia kemudian berganti nama menjadi Soekarno.

Jessica Ruiz - Makeup artist


Walaupun tanpa bantuan tangan, Jessica Ruiz begitu mahir menggunakan alat-alat makeup. Dengan kuas terjepit di antara bibir, perempuan berambut pirang ini bisa membuat siapa saja terlihat cantik.

Dilansir Yahoo! Beauty (20/11/15), Ruiz adalah seorang makeup artist difabel inspiratif asal Philadelphia, Amerika Serikat. Sebenarnya dia memiliki sepasang tangan lengkap. Namun Ruiz menyandang arthrogryposis, sebuah kondisi yang menyebabkan seseorang tidak dapat memfungsikan kedua lengannya secara normal.

Perkenalan Ruiz dengan makeup dimulai saat remaja. Dia mencoba-coba merias diri untuk meningkatkan percaya dirinya. Pasalnya Ruiz sering diejek oleh teman-teman sekolahnya. Pujian demi pujian yang Ruiz dapatkan membuatnya semakin yakin akan bakatnya. Dia pun memutuskan untuk menjadi seorang makeup artist.


Bulan suci Ramadan menjadi yang ditunggu-tunggu bagi seluruh umat muslim di dunia, tak terkecuali untuk Citra Chasanah, teknisi pesawat jenis ATR72-600 yang sehari-hari bekerja di PT. Garuda Maintenance Facility AeroAsia.

Namun, pekerjaannya sebagai teknisi pesawat membuatnya harus kerap merasakan Ramadan jauh dari keluarga. Ya, Citra harus berpindah-pindah daerah untuk menangani perawatan pesawat yang dimiliki Garuda Indonesia Airlines.

"Ya sekali kerja bisa dua bulan bahkan lebih. Ramadan kemarin juga aku enggak di rumah. Sedih banget kalau lagi jauh, apalagi saya family oriented. Memang jarang keluar rumah," terangnya.


YOGYAKARTA (simdik.info) - Profesi sebagai seorang engraver atau pengukir gambar sangat langka di Indonesia. Bahkan saat ini orang yang menekuni sebagai engraver tinggal sedikit. Jumlahnya tidak lebih dari 10 orang.

Salah satunya adalah Mujirun, seorang engraver yang sebelumnya bekerja di Perum Peruri. Saat ini dia telah pensiun, namun masih tetap meneruskan profesinya sebagai engraver.

Pekerjaan seorang engraver bukanlah pekerjaan mudah karena membutuhkan ketelitian. Pekerjaan seorang pelukis mata uang kertas juga merupakan salah satu pengaman mata uang. Gambar yang dihasilkan dalam sebuah mata uang kertas harus gambar yang realis dengan garis-garis yang rumit.

"Kalau jumlahnya 10 atau 12 orang itu masih terlalu banyak. Yang saya tahu mungkin kurang dari itu engraver di Indonesia," ungkap Mujirun kepada detikcom di sela-sela acara diskusi "Uang Kertas Indonesia Tahun 1952-1992" di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM).



3 Ilmuwan kelahiran Jepang memenangkan Nobel bidang Fisika. Mereka adalah Isamu Akasaki, Hiroshi Amano dan Shuji Nakamura yang menemukan Light-Emitting Diode (LED) warna biru.

Isamu yang lahir di Chiran, Jepang, tahun 1929 adalah peneliti dan guru besar di Universitas Nagoya dan Universitas Meijo; Hiroshi yang lahir di Hamamatsu, Jepang tahun 1960 juga guru besar Universitas Nagoya. Sedangkan Shuji yang lahir di Ikata tahun 1954, kini menjadi peneliti di Universitas California, Santa Barbara, AS.

Penelitian mereka untuk menemukan LED warna biru sudah dimulai sejak belasan hingga puluhan tahun lalu. Tahun 1986, Isamu dan Hiroshi untuk pertama kalinya sukses membuat kristal gallium nitride berkualitas tinggi, bahan dasar yang dibutuhkan untuk membuat cahaya biru. Hanya sedikit sekali ilmuwan dan insinyur yang tertarik pada material kristal.


Pahlawan Indonesia. Tokoh berikut ini dikenal sebagai pelopor pendidikan untuk masyarakat pribumi di Indonesia ketika masih dalam masa penjajahan Kolonial Belanda. Mengenai profil Ki Hajar Dewantara sendiri, beliau terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang kemudian kita kenal sebagai Ki Hadjar Dewantara. Beliau sendiri lahir di Kota Yogyakarta, pada tanggal 2 Mei 1889, Hari kelahirannya kemudian diperingati setiap tahun oleh Bangsa Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Beliau sendiri terlahir dari keluarga Bangsawan, ia merupakan anak dari GPH Soerjaningrat, yang merupakan cucu dari Pakualam III. Terlahir sebagai bangsawan maka beliau berhak memperoleh pendidikan untuk para kaum bangsawan.

Mulai Bersekolah dan Menjadi Wartawan
Ia pertama kali bersekolah di ELS yaitu Sekolah Dasar untuk anak-anak Eropa/Belanda dan juga kaum bangsawan. Selepas dari ELS ia kemudian melanjutkan pendidikannya di STOVIA yaitu sekolah yang dibuat untuk pendidikan dokter pribumi di kota Batavia pada masa kolonial Hindia Belanda, yang kini dikenal sebagai fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Meskipun bersekolah di STOVIA, Ki Hadjar Dewantara tidak sampai tamat sebab ia menderita sakit ketika itu.